BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Jumat, 11 Juni 2010

Chapter 1

>>ASAL MULA<<

Saat pertama ku melihat dunia ini tak ada lain yang dapat kusuarakan selain tangisan perpisahan akan damai dan tenangnya hidup dalam diri ibu-ku. Tiada pernah aku tahu, apa yang terjadi detik demi detik, menit ke menit, hingga hari ataupun masa-masa mendatang setelah dewasaku.


Sesungguhnya telah digambarkan padaku apa yang kan terjadi dan kualami, namun tetap saja ku menangis, karena begitu ku melihat terangnya cahaya dunia saat itu juga kulupa. Sungguh memang aku sebagai manusia dicipta dengan sifat lupa dan alpa meyertaiku. Andai kubisa, ingin ku tetap terlindungi dan bersih seperti saat itu, tapi.............................


Saat ini aku duduk di bangku sekolah dasar, aku yang notabene pindahan dari sekolah kecil yang murid kelas satu sampai enam semua diletakkan dalam satu ruangan karena jumlahnya tak sampai habis hitungan jari tangan plus kaki, melihat murid yang sedemikian banyaknya jadi bingung dan terkagum. Mereka terdiri dari beraneka rupa dan sifat yang kadang sulit dimengerti, atau mungkin karena terlalu lamanya aku berada dalam kesepian atau ketersedikitan teman bermain sehingga kebingungan menjadi suatu keniscayaan bagiku....??


Pagi ini seperti biasanya jam istirahat pertama kuisi dengan duduk menyendiri menatap mereka yang berlarian kesana kemari bermain beteng-betengan, hanya saja kesendirianku hari ini tak berlangsung lama, karena Yayak salah seorang temanku menghampiriku.

"Ngapain duduk sendiri Han..?" Sapanya membuka percakapan.

"Kenapa kamu nggak ikutan main bersama yang lain ?" Tanyanya kembali.

"Aku lebih senang duduk disini sambil melihat-lihat." Jawabku sekenanya.

"Hahahahahahahaahaha.........pasti melihat-lihat cewek." Tembak si Yayak yang membuatku bingung dan malu.

Kata yang selama ini sangat jarang kudengar dan lihat bentuk nyatanya, karena memang di sekolah lamaku jumlah murid wanitanya hanya dua orang.

"Tenang kawanku....nanti pasti kukenalkan pada salah satu yang tercantik disini." Katanya sok promosi.

"Emang aku perlu jasamu tuk memperkenalkanku...??" Tanyaku dengan nada yang menunjukkan rasa tidak sukaku.

"Kan nggak apa toh...." Serang Yayak kembali. "Sudahlah....denganku semua urusanmu akan beres dan lancar." Cerocos Yayak bagai mitraliyur.

Demikianlah awal perkenalanku dengan salah seorang teman yang pada akhirnya selalu ada dalam hari-hariku di masa mendatang.

Sabtu, 13 Maret 2010

Sepenggal kisah masa lalu

Saat kuberjalan melintasi keramaian kota surabaya anganku serasa kembali melayang ke masa lalu dimana segala hal tak terlalu dan selalu diperhitungkan dengan materi. Persahabatan dan persaudaraan dibangun atas dasar rasa saling memiliki dan kesetia kawanan yang amat sangat kuat, sehingga apapun yang terjadi dan apapun resikonya tak pernah diperdulikan demi sahabat dan saudara. Maka apa yang namanya "gang" pada masa itu banyak sekali bertebaran, baik itu "gang" sepeda, breakdance, dan lain sebagainya.

Ini sepenggal kisah yang sempat terlintas tentang salah seorang kawan saya.
kawan saya yang satu ini sangat setia kawan sekali, bahkan pada hari itu saat dia sudah bangun kesiangan diminta untuk menunggu surat dari kawannya dia pun mengiyakan saja. Padahal resikonya dia akan terlambat tiba di sekolah, yang dia tahu pula resikonya akan dijemur di lapangan sekolah. Demikianlah kawan saya itu, dengan sabarnya dia menanti surat yang sedang ditulis oleh ibu temannya yang sudah tak lagi muda, yang hingga untuk menulis surat pun beliau membutuhkan penyambung mata berupa kaca mata, yang sialnya lagi saat itu sang ibu sedang kebingungan mencari dimana kaca matanya berada. Sungguh malang nian nasib kawan saya tersebut, namun ya itu tadi karena rasa kesetia kawanannya yang besar dengan sabar dia menantikannya, hingga tanpa sadar waktu telah menunjukkan pukul sembilan tepat.

Begitu sang ibu temannya selesai menulis surat, segeralah kawan saya mengayuh sepedanya melesat meninggalkan debu beterbangan karena dia terpeleset pasir, namun tanpa rasa putus asa dia kayuh sepedanya kuat-kuat demi mengejar sang waktu walau dia tahu pasti bahwa dia akan terlambat bahkan sangat terlambat tiba di sekolah. Sekali lagi itulah rasa kesetia kawanan sejati. Setiba di sekolah, karena dia merasa apa yang dilakukannya tidaklah salah maka kawan saya tadi langsung saja masuk ke dalam kelas.
"Selamat pagi bu....maaf !" Sapanya kepada ibu guru yang sedang mengajar di depan kelas.
"Pagi..???" Tanya bu guru sambil menatap kawan saya dari balik kaca mata mininya.
"Anak-anak, apakah ini masih pagi atau siang kah ???" Tanya bu guru pada teman-teman kawanku.
Sontak dengan serempak seolah koor seisi kelas menjawab
"SIANG, BU GURUUUUUUU........!"
Bu guru kembali mengalihkan pandangannya menatap kawanku.
"Kamu, mengapa kamu sampai kesiangan datang ke sekolah ?" Tanya bu guru
"Maaf bu guru, dari Tadi..." Jawab kawan saya.
Bu guru melongo mendengar jawab kawan saya, pikirnya, anak ini sudah kesiangan masih bilang dari tadi.
"Kalau sudah dari tadi mengapa kau tidak langsung masuk kelas ?" Tanya bu guru lebih lanjut.
"Iya bu, ini juga saya sudah mau langsung masuk." Jawab teman saya lagi "Tapi oleh bu guru ditahan."
"Ya terang saya tahan karena kamu masuk kelasnya kesiangan."
"Kenapa tidak dari tadi kamu segera masuk kelas..??"
Teman saya jadi kebingungan, bagaimana dia menjelaskan agar bu guru bisa mengerti
"Bu, saya kalau dari Tadi ke sekolah harus naik sepeda......dan jaraknya jauh."
"Lha iya, kalo emang dari tadi terus kenapa kamu tidak langsung masuk kelas." Tanya bu guru yang semakin tak mengerti.
Akhirnya kawan saya tanpa banyak cakap lagi segera saja menyodorkan surat dari ibu temannya yang dititipkan padanya. Disambut, dibuka, kemudian dibacalah oleh bu guru dengan seksama surat tersebut, yang isinya menyatakan bahwa Sutadi hari ini tidak dapat mengikuti pelajaran karena sakit.

Rupanya yang dimaksud dari Tadi oleh kawan saya tidak ketemu dengan dari tadi milik bu guru, andai kata-kata bisa dibuat seperti bahasa tulis dengan menggunakan huruf besar...?????