
Entah mengapa, kumerasa bahwa malam ini tidaklah seperti malam-malam yang lain. Ada suatu perasaan yang aku sendiri tak mengerti......apa itu?
Kesunyian dan kepekatannya seolah melebihi malam yang lain, sehingga sungguh kumerasakan kesendirian ini semakin menggigit. Kucoba mencari kesana-kemari tiada nampak sebentuk mahlukpun berkeliaran, membuatku jadi semakin waspada, ada apakah sebenarnya? Apa yang terjadi ?
Akhirnya tiada kuperdulikan lagi keadaan ini, dan kulanjutkan kembali menyusuri kegelapan malam mengikuti kata hati dan kemana kaki membawa. Kujelajahi setiap ruang mencoba mencari peluang, kumasuki setiap lorong berharap dapat terisi perut yang kosong, sehingga kudapati yang tak dapat kutolak menelusup memasuki setiap celah inderaku hingga dia dapat memuaskanku nantinya. Terimakasih duhai malam jelita, akhirnya kau pertemukan aku dengan yang dapat mencukupi hasratku malam ini. Tanpa kuperdulikan lagi sekelilingku, segera saja kupuaskan kekosongan rongga tubuhku...kubuat dia penuh walau sedikit demi sedikit tanpa sadar kumerasa sesak....sesak yang semakin lama semakin mengangkat difragmaku sehingga kini mulai kurasa mengurangi gerak paruku...sssshh..hhggh.....
"Aaaaarrrrgghh...!" Tiba-tiba serasa ada api menjalari tubuhku.
"Uuuugggh........Aaaaggghhhh...!" Kenapa terasa kering dalam tubuhku teriakku dalam hati
"Ooouuugggghhhh.....!"Suaraku semakin hilang...hilang dan hilang.
Segera secara sadar kucoba mencari sesuatu yang sekiranya dapat membasuh rongga tubuhku yang terdalam setelah rasanya seperti terserap keluar semua cairannya. Kucoba mencari dan terus mencari dengan sisa tenaga yang semakin lama semakin cepat menjadi lemah, "Oh...Tuhanku..."Rintihku.
"Apa yang telah salah dalam tingkah dan lakuku?" Ratapku dengan lemah.
"Aku hanya mencoba untuk menyambung nyawa yang telah Kau titipkan kepadaku, Tuhanku."
"Apakah dosa bila kulakukan semua itu," Ratapku terus.
"Mengambil sedikit dari yang punya banyak....sedikit memaksa kepada yang lemah."
"Sungguh Tuhanku......demi menyambung hiduplah kulakukan itu."
Sedikit demi sedikit bagai alur flash back sebuah film karya anak negri terlihat kembali gambaran perjalanan hidup ini, yang kadang terasa naik adakalanya pula turun meluncur bagai roller coaster tanpa halangan. Bagaimana setiap kali demi kelangsungan dan kelanggengan populasi kusemai bibit di berbagai tempat, lalu segera setelahnya kutinggaalkan demi mencari persemaian baru lagi dan menjaga kelangsungan hidup diri sendiri. Tapi jujur aku sendiri tak pernah tahu mengapa jadi seperti ini, seolah memang seperti harus begitulah jalan hidupku.
Sementara itu, saat ini aku merasa semakin lama tubuh ini semakin lemah karena dehidrasi yang rasanya sungguh cepat menguras cairan dalam tubuhku. Rasanya sungguh tak sanggup lagi kulanjutkan melangkah melanjutkan hidup ini, padahal malam pun belum beranjak pergi.
Pikirku menerawang seraya tubuh terlentang kembali melintasi hari-hari sepanjang umurku. Kiranya memang sudah waktuku, ku ingin disegerakan saja tanpa sedikitpun aku merasa sakit, susah atau membuat susah. Tapi kurasa itu semua tak mungkin karena saat ini rasanya sakit yang menggigit seolah menghujam dalam tubuhku, dan yang kurasa malam ini semakin gelap dan gelap dan pekat dan dingin dan beku dan akhirnya tak kurasa apa-apa lagi.
Pagi itu sekelompok orang berdiri melingkar sambil terlibat suatu pembicaraan yang seru.
"Waaah..!" Kata yang pertama "Akhirnya berhasil juga kau."
"Yap.." Kata si kedua dengan mantap.
"Tapi kenapa bisa sejauh ini dia..?" Tanya si ketiga.
"Tapi yang lebih penting hasilnya sungguh memuaskan."Kata yang keempat
"Yap..!" Kata si kedua kembali.
"Terus kita buang kemana?" Tanya yang ketiga.
"Langsung ke sungai aja." Celetuk pihak pertama.
"Jangan, mending ke tempat pembakaran sampah aja biar tak merepotkan." Kata si empat.
Akhirnya berangkatlah mereka yang empat tersebut ketempat pembakaran sampah sambil terus membicarakan peristiwa tersebut.
"Berarti hebat ya...cara kerja obat tersebut."
"Memang seperti itu cara kerjanya kata si penjual."
"Jadi begitu makan umpannya tikus itu akan mati dehidrasi ya...?"
"Ya... begitulah cara kerjanya, kematiannya takkan pernah jauh dari umpannya."
Dan......begitulah kiranya akhir perjalanan hidupku di dunia yang singkat ini.