Kala kau buka dengan jemarimu yang lembut...sungguh, aku merasakan suatu aliran lembut menjalar disekujur tubuhku. Rasa tak sabar-ku menimbulkan rasa sesak hingga dada serasa akan meledak.
Tapi entah m
engapa engkau seakan ingin mempermainkan diriku, hingga tak kau segerakan untuk membuka semuanya saja.
engapa engkau seakan ingin mempermainkan diriku, hingga tak kau segerakan untuk membuka semuanya saja."Kenapa sih engkau seperti sengaja mempermainkan aku.?" kataku dalam hati
"Kenapa seolah kau ingin mempermainkan aku ?"
"Apakah puas kau menyiksa rasaku ?" rengekku tiada henti.
"Kenapa seolah kau ingin mempermainkan aku ?"
"Apakah puas kau menyiksa rasaku ?" rengekku tiada henti.
Kemudian, tanpa memperdulikan aku yang sudah mulai bergejolak, satu persatu kau membuka-ku hingga terlepas semua yang membungkusku.
"Lekas...lekas...aku sudah tak sabar sayang...." rengekku yang hanya bisa kudengar sendiri.
"Ayo...sayang....jangan kau tunda lagi." desahku mendayu.
"Ayo...sayang....jangan kau tunda lagi." desahku mendayu.
Kemudian dengan lembut kau tatap aku sejenak, lalu sambil tersenyum mulai kau jilat aku.
"Oooouuggh.....niiikmatnya..." erangku tak kuasa.
Perlahan dan sabar, kau jilat semua milik-ku, bahkan setiap inci kau telusuri dengan ujung lidahmu. Itulah yang kusuka darimu, totalitas dalam melakukan segala hal dan selalu melakukannya dengan kesabaran yang luar biasa.
Usapan lembut lidahmu yang hangat disekujur tubuh-ku sungguh serasa melonggarkan pori-poriku, membuat diri ini serasa terbang ke langit ke tujuh. Tak pernah aku merasakan hal yang seperti ini, sungguh suatu pengalaman yang amat sensasional. Apalagi bila sesekali kau masukkan seluruhnya ke dalam rongga mulutmu, serta kau gigit-gigit lembut menggunakan barisan gigimu yang laksana biji mentimun......
Usapan lembut lidahmu yang hangat disekujur tubuh-ku sungguh serasa melonggarkan pori-poriku, membuat diri ini serasa terbang ke langit ke tujuh. Tak pernah aku merasakan hal yang seperti ini, sungguh suatu pengalaman yang amat sensasional. Apalagi bila sesekali kau masukkan seluruhnya ke dalam rongga mulutmu, serta kau gigit-gigit lembut menggunakan barisan gigimu yang laksana biji mentimun......
"Hmmmmmgghh......sssuuunggguh niikmaat."
"aku tak tahan sayang...teruskan...teruskan....." aku jadi meracau tak karuan.
Kau terus memainkannya dengan memasukkan dan mengeluarkan kembali dalam rongga mulutmu berulang-ulang sehingga mengeluarkan suara lembut yang merdu.
"Uuuuuuhhhh............."
"Aaaarrgghhh......hmmmmm."
Kau terus memainkan peranmu, menjilat...mengulum...memainkan dengan ujung lidah hangatmu tanpa peduli lagi dengan diriku terus saja kau nikmati peranmu tersebut dengan mata terpejam seolah turut kau rasakan nikmatnya.
Mengapa, oh mengapa kau sama sekali tak memperdulikan aku yang sudah tak tahan berlama-lama lagi, terus saja kau permainkan ujungku dengan ujung lidahmu. Walau aku merengek, mengerang bahkan berteriak karena sudah tak tahan lagi tetap saja kau memainkannya dengan perlahan sesukamu. Hingga akhirnya , kumerasa bahwa kau pun sudah tak tahan lagi, sehingga dengan gerakan yang sangat kuat dan dengan segenap perasaan kau gigit aku.
Mengapa, oh mengapa kau sama sekali tak memperdulikan aku yang sudah tak tahan berlama-lama lagi, terus saja kau permainkan ujungku dengan ujung lidahmu. Walau aku merengek, mengerang bahkan berteriak karena sudah tak tahan lagi tetap saja kau memainkannya dengan perlahan sesukamu. Hingga akhirnya , kumerasa bahwa kau pun sudah tak tahan lagi, sehingga dengan gerakan yang sangat kuat dan dengan segenap perasaan kau gigit aku.
"AAAKKHH..........!!!!!" teriakku.
"AAUUUUUUU.....................OOOOgghhh...!!!"
Kau terus menggigit, mengunyah, dan melumat diriku seolah tak ingin kau sisakan lagi hingga akhirnya betul-betul habis diriku.....Nyam...Nyam....Nyam...Nyam....Kriuk....kriuuuk mmmhh.....
hmmmm.........hmmmmmm
Habis sudah aku..................................................hingga hanya bersisa sebatang tongkat kecil dimana tadinya aku melekat yang kini kau campakkan ke dalam tong sampah.
"Maaaa, belikan lagi......" Begitulah rengekmu kemudian pada mama-mu.
"Pokoknya....mau lagi, beli lagi....lagi...lagi ma..........." Rengekmu sepanjang jalan.
"Maaaa, belikan lagi......" Begitulah rengekmu kemudian pada mama-mu.
"Pokoknya....mau lagi, beli lagi....lagi...lagi ma..........." Rengekmu sepanjang jalan.
----oo0 (O) 0oo----

0 komentar:
Posting Komentar