BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Selasa, 27 Oktober 2009

Sensational




Kala kau buka dengan jemarimu yang lembut...sungguh, aku merasakan suatu aliran lembut menjalar disekujur tubuhku. Rasa tak sabar-ku menimbulkan rasa sesak hingga dada serasa akan meledak.
Tapi entah mengapa engkau seakan ingin mempermainkan diriku, hingga tak kau segerakan untuk membuka semuanya saja.
"Kenapa sih engkau seperti sengaja mempermainkan aku.?" kataku dalam hati
"Kenapa seolah kau ingin mempermainkan aku ?"
"Apakah puas kau menyiksa rasaku ?" rengekku tiada henti.

Kemudian, tanpa memperdulikan aku yang sudah mulai bergejolak, satu persatu kau membuka-ku hingga terlepas semua yang membungkusku.
"Lekas...lekas...aku sudah tak sabar sayang...." rengekku yang hanya bisa kudengar sendiri.
"Ayo...sayang....jangan kau tunda lagi." desahku mendayu.

Kemudian dengan lembut kau tatap aku sejenak, lalu sambil tersenyum mulai kau jilat aku.
"Oooouuggh.....niiikmatnya..." erangku tak kuasa.
Perlahan dan sabar, kau jilat semua milik-ku, bahkan setiap inci kau telusuri dengan ujung lidahmu. Itulah yang kusuka darimu, totalitas dalam melakukan segala hal dan selalu melakukannya dengan kesabaran yang luar biasa.

Usapan lembut lidahmu yang hangat disekujur tubuh-ku sungguh serasa melonggarkan pori-poriku, membuat diri ini serasa terbang ke langit ke tujuh. Tak pernah aku merasakan hal yang seperti ini, sungguh suatu pengalaman yang amat sensasional. Apalagi bila sesekali kau masukkan seluruhnya ke dalam rongga mulutmu, serta kau gigit-gigit lembut menggunakan barisan gigimu yang laksana biji mentimun......
"Hmmmmmgghh......sssuuunggguh niikmaat."
"aku tak tahan sayang...teruskan...teruskan....." aku jadi meracau tak karuan.
Kau terus memainkannya dengan memasukkan dan mengeluarkan kembali dalam rongga mulutmu berulang-ulang sehingga mengeluarkan suara lembut yang merdu.
"Uuuuuuhhhh............."
"Aaaarrgghhh......hmmmmm."
Kau terus memainkan peranmu, menjilat...mengulum...memainkan dengan ujung lidah hangatmu tanpa peduli lagi dengan diriku terus saja kau nikmati peranmu tersebut dengan mata terpejam seolah turut kau rasakan nikmatnya.

Mengapa, oh mengapa kau sama sekali tak memperdulikan aku yang sudah tak tahan berlama-lama lagi, terus saja kau permainkan ujungku dengan ujung lidahmu. Walau aku merengek, mengerang bahkan berteriak karena sudah tak tahan lagi tetap saja kau memainkannya dengan perlahan sesukamu. Hingga akhirnya , kumerasa bahwa kau pun sudah tak tahan lagi, sehingga dengan gerakan yang sangat kuat dan dengan segenap perasaan kau gigit aku.
"AAAKKHH..........!!!!!" teriakku.
"AAUUUUUUU.....................OOOOgghhh...!!!"
Kau terus menggigit, mengunyah, dan melumat diriku seolah tak ingin kau sisakan lagi hingga akhirnya betul-betul habis diriku.....Nyam...Nyam....Nyam...Nyam....Kriuk....kriuuuk mmmhh.....
hmmmm.........hmmmmmm
Habis sudah aku..................................................hingga hanya bersisa sebatang tongkat kecil dimana tadinya aku melekat yang kini kau campakkan ke dalam tong sampah.

"Maaaa, belikan lagi......" Begitulah rengekmu kemudian pada mama-mu.
"Pokoknya....mau lagi, beli lagi....lagi...lagi ma..........." Rengekmu sepanjang jalan.
----oo0 (O) 0oo----

Minggu, 25 Oktober 2009

RAKYAT A SATU-SATU (part one)


Kadang aku tak mengerti apa makna dan tujuan dari sekolah, karena menurutku itu hanyalah semacam cara untuk membuang waktu selain daripada melamun dirumah. Suatu rutinitas yang dari hari kehari hanyalah datang menunggu bel berbunyi-masuk kelas-menari didepan kelas sambil menunggu para guru datang-mengobrol dengan teman sekitar sementara guru didepan mencoba menjelaskan sesuatu yang mungkin hanya sebagian kecil penghuni kelas saja yang memahami-kemudian hingga saat bel pulang sekolah.

Seperti itulah rutinitas yang kujalani saat menjadi rakyat A satu-satu, hingga akhirnya kami mencapai titik jenuh. Maka dicobalah suatu petualangan, kalau sekarang mungkin semacam belajar luar sekolah tapi saat itu kami lakukan semula hanya beberapa orang saja. Kemudian berkembang menjadi semua kaum adam Kerajaan A satu-satu, hingga suatu ketika membuat guru pengajar kelabakan karena bingung, kenapa Kerajaan A satu-satu hanya tinggal para ibu ? Esoknya ketika sang Raja beserta para hulubalang Kerajaan A satu-satu dipanggil menghadap,

"Apa yang kalian lakukan...??" Tanya Sang penguasa dengan suara yang menggelegar.
"Maaf, bapak.......??" Sang raja berlagak bingung. Sambil melihat kearah para hulubalangnya.
"Kenapa kalian para lelaki meninggalkan kerajaan tanpa ijin..?"
"Maksud bapak..???" Sang raja semakin bingung beneran.
Sementara itu para hulubalang tetap diam menunggu waktu untuk dipersilahkan bicara.

"Kamu sebagai penguasa di kerajaan A satu-satu, " Tersengal sang penguasa menahan emosi.
"Mana tanggung jawabmu....? Apa yang terjadi dengan A satu-sayu kemarin, Ha ??" Hardik sang penguasa.
"Maaf bapak, saya kemarin sakit sehingga tidak dapat hadir." Jawab sang raja.
"Lalu siapa yang menggantikanmu ?" "Dan mana surat ijinmu ?" Bentak sang penguasa.
"ini suratnya, dan yang menggantikan hulubalang 1 bapak."
Ditatapnya sang hulubalang 1 oleh penguasa dengan menampakkan kegalakannya.

Sementara yang ditatap hanya tersenyum-senyum sambil mencoba menyodorkan secarik foto.

"Apa ini...??" Hardik sang penguasa.
"Foto pak......" jawab sang hulubalang santai.
"Iya saya tahu ini foto, tapi maksudnya apa ?"
"Ini pak, " jawab sang hulubalang terbata dan tersenyum serta tersengal (bingung khan?)
"Kemarin kita melakukan kegiatan belajar luar sekolah..." jawab sang hulubalang sambil tersenyum malu-maluin.
"Kemarin kita ke Kebun Raya....he..he..he.."
"Waaah disana enak pak udaranya sejuk, pemandangannya indah romantis lagi..sayang sekali kemarin bapak tidak ikut, seharusnya seluruh rakyat disertakan........bla...bla......." Sang hulubalang terus nyerocos....berpanjang lebar, sementara sang penguasa hanya bisa melongo menahan amarah.


Jumat, 23 Oktober 2009


Indonesia, tanah airku..... tanah dimana aku dilahirkan dan dibesarkan, air dimana aku pergunakan untuk mandi dan minum-ku.....tapi sungguh....kenapa harganya semakin hari semakin tiada dapat dijangkau oleh beberapa kaum....

Tanah yang merupakan tempat kita dilahirkan...adakalanya menolak untuk kembali kita kepada-Nya... dengan berbagai alasan yang berkuasa atasnya dibuat agar penolakan tersebut menjadi sah. Padahal jasad tinggallah jasad yang pada akhirnya akan kembali menjadi tiada arti lagi....yang bila kita gali lagi dalam hitungan waktu tertentu takkan ada bekasnya lagi (kecuali beberapa kasus). Mengapa itu menjadi pengahalang..???

Indonesia tanah yang makmur....subur....gemah ripah loh jinawi....kata Koes Plus Tongkat dan batu ditanam akan jadi tanaman....Kenapa masih ada yang kelaparan....apa tongkat dan batu-pun sudah tak ada lagi yang bisa ditanam....atau tongkat dan batu-nya sendiri yang sudah tak ada......??????

Banyak yang bilang karena terlalu kayanya negeri ini sampai-sampai batu dan kayunya banyak dijual keluar negeri. Tapi namanya proses menjual, mestinya negeri ini mendapatkan penambahan devisa, tapi...mengapa yang nambah justru utangnya......kenapa masih banyak yang busung lapar....Dulu waktu pertama saya melihat anak kecil dengan perut buncit saya pikir anak itu gendut ternyata itu namanya busung lapar......lha terus om-om yang suka pake jas berdasi itu perutnya juga buncit...?? Banyak yang bilang mereka-mereka itu dibayar dari pajak bapak si anak buncit, tapi kenapa tidak pernah memikirkan nasib anak buncit (kecuali udah kesorot media baru rebutan). ?? Apa mereka pingin dibilang solider (sama-sama buncit) ?




--ooO Semoga generasi mendatang bisa menjadikan segalanya lebih baik Ooo--

Minggu, 11 Oktober 2009

INDAHKAH ??????


Banyak yang bilang hidup itu indah, padahal temanku yang bernama Indah sekalipun tak pernah merasakan makna dari keindahan hidup tersebut. Padahal dia hidup dalam lingkungan yang sangat indah dalam pandangan setiap orang, bangunan rumah yang indah, dengan warna-warna indah pula.

Tetapi, apa yang membuat keindahan hidup Indah menjadi tercerabut dari dirinya ? Apakah dia tidak menikmati masa-masa indah dalam hidupnya ? Ataukah telah terlupakannya masa-masa indah tersebut ? Atau mungkin dia memang betul-betul tidak pernah mengalami masa-masa yang indah dalam hidup ? Tiada pernah ada yang tahu.

Lantas dimana letak keindahannya ? Dimana Keindahan tersebut ? Bagaimana bentuk dari keindahan tersebut ? Bahkan bila ditanyakan kepada indah pun, dia hanya dapat membuka bibirnya yang indah (itupun juga kata sebagian orang) tanpa bersuara tanda tiada dipahaminya makna keindahan tersebut.


Sabtu, 10 Oktober 2009

RENUNGAN MALAM


Entah mengapa, kumerasa bahwa malam ini tidaklah seperti malam-malam yang lain. Ada suatu perasaan yang aku sendiri tak mengerti......apa itu?

Kesunyian dan kepekatannya seolah melebihi malam yang lain, sehingga sungguh kumerasakan kesendirian ini semakin menggigit. Kucoba mencari kesana-kemari tiada nampak sebentuk mahlukpun berkeliaran, membuatku jadi semakin waspada, ada apakah sebenarnya? Apa yang terjadi ?

Akhirnya tiada kuperdulikan lagi keadaan ini, dan kulanjutkan kembali menyusuri kegelapan malam mengikuti kata hati dan kemana kaki membawa. Kujelajahi setiap ruang mencoba mencari peluang, kumasuki setiap lorong berharap dapat terisi perut yang kosong, sehingga kudapati yang tak dapat kutolak menelusup memasuki setiap celah inderaku hingga dia dapat memuaskanku nantinya. Terimakasih duhai malam jelita, akhirnya kau pertemukan aku dengan yang dapat mencukupi hasratku malam ini. Tanpa kuperdulikan lagi sekelilingku, segera saja kupuaskan kekosongan rongga tubuhku...kubuat dia penuh walau sedikit demi sedikit tanpa sadar kumerasa sesak....sesak yang semakin lama semakin mengangkat difragmaku sehingga kini mulai kurasa mengurangi gerak paruku...sssshh..hhggh.....

"Aaaaarrrrgghh...!" Tiba-tiba serasa ada api menjalari tubuhku.

"Uuuugggh........Aaaaggghhhh...!" Kenapa terasa kering dalam tubuhku teriakku dalam hati

"Ooouuugggghhhh.....!"Suaraku semakin hilang...hilang dan hilang.

Segera secara sadar kucoba mencari sesuatu yang sekiranya dapat membasuh rongga tubuhku yang terdalam setelah rasanya seperti terserap keluar semua cairannya. Kucoba mencari dan terus mencari dengan sisa tenaga yang semakin lama semakin cepat menjadi lemah, "Oh...Tuhanku..."Rintihku.

"Apa yang telah salah dalam tingkah dan lakuku?" Ratapku dengan lemah.

"Aku hanya mencoba untuk menyambung nyawa yang telah Kau titipkan kepadaku, Tuhanku."

"Apakah dosa bila kulakukan semua itu," Ratapku terus.

"Mengambil sedikit dari yang punya banyak....sedikit memaksa kepada yang lemah."

"Sungguh Tuhanku......demi menyambung hiduplah kulakukan itu."


Sedikit demi sedikit bagai alur flash back sebuah film karya anak negri terlihat kembali gambaran perjalanan hidup ini, yang kadang terasa naik adakalanya pula turun meluncur bagai roller coaster tanpa halangan. Bagaimana setiap kali demi kelangsungan dan kelanggengan populasi kusemai bibit di berbagai tempat, lalu segera setelahnya kutinggaalkan demi mencari persemaian baru lagi dan menjaga kelangsungan hidup diri sendiri. Tapi jujur aku sendiri tak pernah tahu mengapa jadi seperti ini, seolah memang seperti harus begitulah jalan hidupku.

Sementara itu, saat ini aku merasa semakin lama tubuh ini semakin lemah karena dehidrasi yang rasanya sungguh cepat menguras cairan dalam tubuhku. Rasanya sungguh tak sanggup lagi kulanjutkan melangkah melanjutkan hidup ini, padahal malam pun belum beranjak pergi.

Pikirku menerawang seraya tubuh terlentang kembali melintasi hari-hari sepanjang umurku. Kiranya memang sudah waktuku, ku ingin disegerakan saja tanpa sedikitpun aku merasa sakit, susah atau membuat susah. Tapi kurasa itu semua tak mungkin karena saat ini rasanya sakit yang menggigit seolah menghujam dalam tubuhku, dan yang kurasa malam ini semakin gelap dan gelap dan pekat dan dingin dan beku dan akhirnya tak kurasa apa-apa lagi.


Pagi itu sekelompok orang berdiri melingkar sambil terlibat suatu pembicaraan yang seru.

"Waaah..!" Kata yang pertama "Akhirnya berhasil juga kau."

"Yap.." Kata si kedua dengan mantap.

"Tapi kenapa bisa sejauh ini dia..?" Tanya si ketiga.

"Tapi yang lebih penting hasilnya sungguh memuaskan."Kata yang keempat

"Yap..!" Kata si kedua kembali.

"Terus kita buang kemana?" Tanya yang ketiga.

"Langsung ke sungai aja." Celetuk pihak pertama.

"Jangan, mending ke tempat pembakaran sampah aja biar tak merepotkan." Kata si empat.

Akhirnya berangkatlah mereka yang empat tersebut ketempat pembakaran sampah sambil terus membicarakan peristiwa tersebut.

"Berarti hebat ya...cara kerja obat tersebut."

"Memang seperti itu cara kerjanya kata si penjual."

"Jadi begitu makan umpannya tikus itu akan mati dehidrasi ya...?"

"Ya... begitulah cara kerjanya, kematiannya takkan pernah jauh dari umpannya."

Dan......begitulah kiranya akhir perjalanan hidupku di dunia yang singkat ini.

Selasa, 06 Oktober 2009

Pemuja Rahasia

Setiap Pagi sambil berdiri ditepi jalan itu, selalu kumenungguinya melalui jalanan tersebut.......
Aku selalu berharap dapat melihatnya melintas memulai aktivitas keseharian......
Entah mengapa, kusendiri tak pernah mengerti dan menyadari, setiap melihat dirinya (hanya melihat) serasa ada api yang membara didalam tubuh. Sehingga tenaga,upaya,kehendak serasa menjadi berlipat.
Tidak cantik tidak pula menarik, bahkan tiada satupun hal yang bisa dikatakan terasa enak tuk dipandang padanya, Tapi entah mengapa kuselalu ingin melihatnya............sekali lagi, hanya melihat dan mungkin sedikit menyapa .


Pagi ini seperti biasa kukembali menunggunya melalui jalanan ini, tapi entah mengapa pagi ini ingiiiin sekali kuberanikan diri tuk sekedar menyapanya. Detik, menit bahkan jam terus berlalu, tapi tiada kunjung lewat juga ia, kutengok hingga ujung jalan belum nampak juga.....Apakah telah terjadi sesuatu pada dirinya ? Ataukah dia memilih lewat jalan yang lain ? Tapi kurasa tak mungkin dia memutar terlampau jauh, karena kutahu bahwa secara fisik dia agak lemah. Setelah melewati satu bahkan dua jam mungkin, akhirnya nampak juga dia di ujung jalan. Oh, berdebar rasa dada ini, apa ini yang dinamakan cinta ? Tapi kutak berani memastikannya apalagi tuk berharap terlampau jauh.

segera kupersiapkan diriku, kuatur kembali rambutku, kubasuh bibirku......kucoba menyusun kataku.....oh, tapi serasa kelu aja lidah ini. Tapi kalo tidak hari ini, kapan lagi ? pikirku dalam hati. Maka, kucoba membulatkan tekadku dan kuberanikan diri ini, dan.......SATU.......DUA.......TIGA !!!
Segera kuberdiri menghalang langkahnya,
"AAAARRGGHH !!!" Teriaknya begitu melihatku, padahal belum sempat kubuka mulut ini, bukan hanya itu bahkan dia lari terbirit-birit ketakutan hingga sandalnya terlempar dan sialnya mendarat tepat mengenai wajahku.
"Ooooooh........Tuhan," rintihku sedih mengenang nasib ini.
"Mengapa harus seperti ini takdirku, " menitik air mataku perlahan di pipi ini.
"Tuhan......mungkinkah aku hanya bisa menjadi PEMUJA RAHASIA.?"
"Tak bolehkah aku mencinta atau memilikinya ?"
"Apakah tak boleh bila aku mencinta yang lain species denganku ?"
"Apakah...tak boleh, bila.....seekor tikus tampan ini mencintai seorang wanita yang cantik jelita ?"

Rupanya memang harus begini nasibku, menjadi PEMUJA RAHASIA tuk selamanya.


------------------oo ( O ) oo---------------------