Rasa suka terhadap lawan jenis atau lebih tepatnya ketertarikan akan lawan jenis muncul pada anak manusia pertama kali adalah saat mereka sudah mulai sering berinteraksi baik secara langsung maupun tak langsung. Dan itu biasanya dimulai saat menginjak bangku sekolah dasar, dan begitupun yang terjadi pada diri ini. Pada saat itu mulai tumbuh rasa suka, tertarik akan lawan jenis berdasar sifat, tingkah dan hal-hal kecil yang nampak dalam hubungan pertemanan atau pergaulan setiap hari.
Dan Bagiku mawar terlihat lebih indah daripada melati, walaupun dia tidaklah seharum dan sebersih ataupun sesuci melati. Karena bagiku dia begitu tegar berdiri diantara belukar berduri, dia memberi indah diantara semak yang senantiasa mengancam, bahkan dalam prosesnya layu selembar demi selembar kelopaknya tetaplah dia kukuh berdiri hingga hanya menyisakan benangsari yang kering berdiri tegak pada batang berduri kecil yang seakan tak mampu menyangganya.
Demikianlah gambaran akan mawar jelita pujaan hatiku. Dia hidup sebagai yatim piatu bersama kakak-kakak perempuan dan adik lelakinya, namun dia sungguh tegar dan tiada pernah ada rasa rendah diri dalam pergaulan. Tak pernah ada gundah walau teman banyak yang mencemooh, dia lawan setiap cemoohan dengan prestasi yang sangat membanggakan, dia adalah anak tercepat sekecamatan kami, dia adalah pelari tercepat bahkan atlet atletik terhebat.
Aku tak pernah menyangka bahwa gelora di dada ini selalu meledak-ledak tiap kali berdekatan dengannya atau bahkan hanya melihatnya atau yang lebih hebat maha dahsyatnya dia adalah dengan hanya melewati depan rumahnya saja terasa indahnya. Hingga saat itu aku punya jargon "Kecipir mrambat kawat - godhong bendho kintir kali" masi gak mampir, cuma liwat - kroso lego rasane ati......itulah gambaran begitu maha dahsyatnya rasa, yang kata orang hanyalah akan sementara waktu saja, tapi rupanya tidaklah demikian akanku. Hingga suatu masa selepas kita tak satu sekolah lagi setiap bertemu dengan dia letupan rasa itu selalu timbul. Bahkan ketika aku sudah mulai butuh spirit, cukuplah aku lewat depan rumahnya, terutama saat akan menghadapi ujian.....berharap mendengar suaranya, syukur bisa melihatnya, lebih bersyukur lagi bila bisa sampai mengobrol di teras rumahnya....hahahahahahahaha. Tapi itu semua hanyalah khayalan pribadi saja, karna andaipun bertatap muka, lidah terasa kelu, mulut kaku, jadi seperti orang gagu. Itulah hebatnya rasa.
Rasa itu tetaplah ada, rasa itu tetaplah terjaga hingga hanya dengan menyebut namanya hidup terasa damai.
Rabu, 25 Mei 2011
Cinta Monyet ???
Diposting oleh PERJALANAN HIDUP di 22:52
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar